Kamis, 21 Maret 2013

SELF CONCEPT


K O N S E P  D I R I
(SELF CONCEPT)

Manusia adalah mahluk biopsikososial yang unik dan menerapkan sistem terbuka serta saling berinterkasi. Manusia selalu berusaha untuk mempertahankan keseimbangan hidupnya. Keseimbangan yang dipertahankan oleh setiap individu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya disebut sehat.
Pada hirarki dalam kebutuhan maslow menyatakan bahwa tingkat yang paling tinggi dala kebutuhan manusia adalah tercapainya aktualisasi diri. Untuk mencapai kebutuhan tersebut diperlukan konsep diri yang sehat. berikut ini beberapa uraian tentang konsep diri dan asuhan keperawatannya.  

A.    PENGERTIAN
Konsep diri adalah semua perasaan, kepercayaan, dan nilai yang diketahui individu tentang dirinya dan mempengaruhi individu dalam berhubungan dengan orang lain (Stuart & Sundeen, 1991).  
Konsep diri adalah cara individu dalam melihat pribadinya secara utuh menyangkut fisik, emosi, intelektual, sosial dan spiritual. Termasuk didalamnya persepsi individu tentang sifat dan potensi yang dimilikinya, interkasi individu dengan ornag lain maupun lingkungannya, nilai-nilai yang berkaitan dengan pengalman dan objek serta tujuan, harapan, dan keinginnya.
Konsep diri merupakan bagian dari masalah kebutuhan psikososial yang tidak dapat sejak lahir akan tetapi dapat dipelajari sebagai hasil dari pengalaman sesorang terhadap dirinya dan berkembang sesuai dengan perkembangan psikososial sesorang. Maka pembentukan konsep diri ini sangat dipengaruhi oleh asuhan orang tua dan lingkunganya.
Rentang Respon Konsep Diri
Respon adaptif                                                            Respon Maladaptif
Konsep diri positif                                                      Kekacauan Identitas


 
Aktualisasi diri                Harga diri rendah                Depersonalisasi

B.     KOMPONEN KONSEP DIRI
Komponen konsep diri terdiri dari empat yaitu citra tubuh / diri, harga diri, peran / ideal diri, dan identitas diri.
1)      Citra Tubuh  (body image)
v  Citra tubuh adalah sikap seseorang terhadap tubuhnya secara sadar dan tidak sadar (Stuart dan Sundeen, 1991). Sikap ini mencakup persepsi dan perasan tentang ukuran dan bentuk, fungsi, penampilan dan potensi tubuh saat ini dan masa lalu. Sedangkan Menurut Potter dan Perry (1997) citra tubuh adalah persepsi seseorang tentang tubuhnya , baik secara internal maupun eksternal.
v  Mencakup persepsi dan perasaan atau sikap individu terhadap tubuhnya sendiri, termasuk penampilan fisik, struktur, dan fungsinya.
v  Dipengaruhi oleh pertumbuhan kognitif dan perkembangan fisik, perubahan perkembangan yang normal seperti pubertas dan penuaan.selain itu juga sosial dan nilai kultural. Budaya dan masyarakat menentukan norma-norma yang diterima luas mengenai citra diri dan dapat mempengaruhi pandangan pribadi tentang karakteristik dan kemampuan fisik. Misalnya warna kulit, cantik, kurus dsb.
v  Hal-hal yang penting terkait dengan gambaran diri (citra tubuh) yaitu:
a.       Fokus individu terhadap fisik lebih menonjol pada usia remaja.
b.      Bentuk tubuh, BB, TB serta tanda-tanda pertumbuhan kelamin, menjadi gambaran diri
c.       Cara individu memandang diri berdampak penting terhadap aspek psikologis
d.      Gambaran yang realistic terhadap menerima dan menyukai bagian tubuh, akan memberikan rasa aman dalam menghindari kecemasan dan meningkatkan harga diri.
e.       Individu yang stabil, realistic, dan konsisten terhadap gambaran dirinya dapat mendorong sukses dalam kehidupan.

2)      Harga Diri (self esteem)
v  Harga diri adalah penilaian individu tentang dirinya dengan menganalisa kesesuaian antara perilaku dan ideal diri yang lain.
v  Harga diri dapat diperoleh melalui penghargaan diri sendiri maupun dari orang lain.
v  Perkembangan harga diri juga ditentukan oleh perasaan diterima, dicintai, dihormati oleh orang lain, serta keberhasilan yang pernah dicapai individu dalam hidupnya. Contoh jika sesorang selalu sukses maka cenderung harga dirinya akan tinggi dan jika mengalami gagal cenderung harga diri menjadi rendah. Dengan kata lain individu akan berhasil atau hidupnya bermakna apabila diterima dan diakui orang lain atau merasa mampu menghadapi kehidupan dan mampu mengontrol dirinya.
v  Aspek utama adalah dicinta dan menerima penghargaan dari orang lain. Harga diri akan rendah jika kehilangan cinta dan seseorang kehilangan penghargaan dari orang lain (Stuart dan Laraia, 2005). Harga diri yang rendah dapat berupa : mengkritik diri sendiri, perasaan tidak mampu, rasa bersalah, mudah tersinggung, pesimis, gangguan berhubungan (isolasi/menarik diri) dan merusak diri (Kelliat, 1992).
v  Keluarga dan masyarakat merupakan seperangkat standar yang biasa digunakan oleh seseorang yang akan mengevaluasi dirinya sendiri (Potter dan Perry, 1997). Keluarga sebagai sistem pendukung utama untuk membantu seseorang meningkatkan harga dirinya. Menurut Braid, dkk seperti yang dikutip Keliat (1992), keluarga dan sistem pendukung sosial dapat membantu meningkatkan harga diri seseorang dengan cara :
a)         Memberi kesempatan untuk mengungkapkan perasaan.
b)                Menegaskan pentingnya klien.
c)                Menolong membuka perasaan negatif.
d)               Memberi umpan balik perilaku.
e)                Memberi rasa percaya dan keyakinan.
f)                 Memberi informasi yang dibutuhkan.
g)                Berperan sebagai pembela.
h)      Memberi dukungan yang bervariasi : uang, bantuan fisik, material dan tanggunga jawab.
i)                  Menghargai penilaian personal yang cocok terhadap kejadian.


3)      Peran / Ideal Diri (self role)
v  Peran adalah serangkaian perilaku yang diharapkan oleh masyarakat yang sesuai dengan fungsi yang ada dalam masyarakat atau suatu pola sikap, perilaku, nilai dan tujuan yang diharapkan dari seseorang berdasarkan posisinya di masyarakat. Misalnya sebagai orang tua, atasan, teman dekat, dsb.
v  Perilaku tersebut diharapkan dapat diterima oleh keluarga, masyarakat dan budaya. Peran yang ditetapkan adalah peran dimana seseorang tidak punya pilihan. Peran yang diterima adalah peran yang terpilih dan dipilih oleh individu. Setiap orang mempunyai peran lebih dari satu. Untuk dapat berfungsi efektif sesuai dengan perannya, seseorang harus tahu perilaku dan nilai-nilai yang diharapkan, harus berkeinginan untuk menyesuaikan diri dan harus mampu mencukupi peran yang dikehendaki (Potter dan Perry, 1997).
v  Faktor-faktor yang menyebabkan seseorang menyesuaikan diri dengan peran yang diterimanya adalah pengetahuan tentang peran yang diharapkan, respon yang konsisten dari orang lain terhadap peran, kecocokan dan kelengkapan berbagai peran, kesesuaian antara norma budaya dan harapan terhadap perilaku peran dan pemisahan situasi yang akan membuat perilaku peran yang bertentangan (Stuart dan Laraia, 2005). Posisi dibutuhkan oleh individu sebagai aktualisasi diri. Posisi di masyarakat dapat merupakan stressor terhadap peran karena struktur sosial yang menimbulkan kesukaran, tuntutan, posisi yang tidak mungkin dilaksanakan (Keliat, 1992).
v  Setiap peran berhubungan dengan pemenuhan harapan-harapan tertentu. Apabila harapan tersebut dapat terpenuhi rasa percaya diri seseorang akan meningkat  
v  Hal-hal yang terkait dengan ideal diri :
a.       Perkembangan awal terjadi pada masa kanak-kanak
b.      Terbentuknya masa remaja melalui proses identifikasi terhadap orang tua, guru dan teman.
c.       Dipengaruhi oleh orang-orang yang dipandang penting dalam memberi tuntutan dan harapan
d.      Mewujudkan cita-cita dan harapan pribadi berdasarkan norma keluarga dan sosial
v   Faktor-faktor yang mempengaruhi :
a.       Menetapkan ideal diri sebatas kemampuan
b.      Faktor culture dibandingkan dengan standar orang lain
c.       Hasrat melibihi orang lain
d.      Hasrat untuk berhasil
e.       Hasrat memenuhi kebutuhan realistic
f.       Hasrat menghindari kegagalan
g.      Adanya perasaan  cemas dan rendah diri.

4)      Identitas Diri (self identity).
v  Adalah penilaian individu tentang dirinya sebagai suatu kesatuan yang utuh. Mencakup konsistensi seseotang sepanjang waktu dan dalam berbagai keadaan serta menyiratkan perbedaan atau keunikan di bandingkan dengan orang lain. Identitas diri sering kali didapat melalui pengamatan sendiri dan dari apa yang didengar seseorang dari orang lain mengenai dirinya.
v  Ciri identitas diri
a.       Memahami diri sendiri sebagai organisme yang utuh, berbeda dan terpisah dari orang lain.
b.      Menilai diri sendiri sesuai dengan penilaian masyarakat
c.       Mengakui jenis kelamin sendiri
d.      Memandang berbagai aspek dalam dirinya sebagai suatu keserasian dan keselarasan
e.       Mempunyai tujuan yang bernilai dan dapat direalisasikan.
C.    Pembentukan Konsep Diri
Konsep diri tidak dibawa sejak lahir tetapi secara bertahap sedikit demi sedikit  timbul sejalan dengan berkembangnya kemampuan persepsi individu. Konsep diri manusia terbentuk melalui proses belajar sejak masa pertumbuhan seseorang dari kecil hingga dewasa. Bayi yang baru lahir tidak memiliki konsep diri karena mereka tidak dapat membedakan antara dirinya dengan lingkungannya. Menurut Allport: bayi yang baru lahir tidak mengetahui tentang dirinya.
Rahmat (2000: 100), menjelaskan bahwa konsep diri bukan hanya sekedar gambaran deskriptif, tapi juga penilaian diri anda tentang diri anda. Jadi konsep diri meliputi apa yang anda pikirkan dan apa yang anda rasakan tentang diri anda. Adanya proses perkembangan konsep diri menunjukan bahwa konsep diri seseorang tidak langsung dan menetap, tetapi merupakan suatu keadaan yang mempunyai proses pembentukan dan masih dapat  berubah.
D.    TAHAP PERKEMBANGAN KONSEP DIRI
Menurut teori psikososial, perkembangan konsep diri dapat dibagi ke dalam beberapa tahap, yatiu :
0 – 1 tahun
Ø  Mulai untuk mempercayai
Ø  Membedakan dirinya dari lingkungan

1 - 3 tahun
Ø  Mempunyai control terhadap beberapa bahasa
Ø  Mulai menjadi otonom dalam pikiran dan tindakan
Ø  Menyukai tubuhnya
Ø  Mengembangkan dirinya dengan mencontohi orang yang dikagumi, meniru dan bersosialisasi
3 – 6 tahun
Ø  Mengambil inisiatif
Ø  Mengidentifikasi gender
Ø  Meningkatkan kewaspadaan / kesadaran diri
Ø  Keterampilan berbahasa meningkat
6 – 12 tahun
Ø  Menggabungkan umpan balik dari teman sebaya dan guru, keluarga tidak lagi dominan
Ø  Meningkatkan harga dirinya dengan penguasaan keterampilan baru (mis membaca, matematika, Olahraga, musik)
Ø  Menguatkan identitas seksual
Ø  Menyadari kekuatan dan kelemahan
12 – 20 tahun
Ø  Menerima perubahan tubuh / kedewasaan
Ø  Menggali untuk tujuan masa depan
Ø  Merasa positif atas berkembangnya konsep diri
Ø  Berinterkasi dengan orang lain-orang yang menurutnya menarik secara seksual atau intelektual
20 – 40 tahun
Ø  Mempunyai hubungan intim dengan keluarga dan orang lain
Ø  Memiliki perasaan yang stabil dan positif mengenai diri
Ø  Mengalami keberhasilan transisi peran dan meningkatnya tanggung jawab.
40 – 60 tahun
Ø  Dapat menerima perubahan penampilan dan ketahanan fisik
Ø  Mengevaluasi tujuan hidup
Ø  Merasa nyaman dengan proses penuaan
Di atas 60 tahun
Ø  Merasa positif mengenai hidup dan makna kehidupan
Ø  Berkeinginan warisan bagi generasi berikutnya

E.     FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KONSEP DIRI
1)      Tingkat perkembangan dan kematangan
Perkembangan anak seperti dukungan mental, perlakuan, dan pertumbuhan akan mempengaruhi konsep dirinya. Adanya dukungan mental yang cukup membentuk konsep diri yang cukup sebaliknya, kegagalan selama masa tumbuh kembang akan membentuk konsep diri yang kurang memadai.
2)      Budaya
Pada usia anak-anak nilai-nilai akan diadopsi dari orang tuanya, kelompoknya dan lingkungannya.
3)      Pengalaman masa lalu
Adanya umpan balik dari orang-orang penting, situasi stressor sebelumnya, penghargaan diri dan pengalaman sukses atau gagal sebelumnya, pengalaman penting dalam hidup atau faktor yang berkaitan dengan masalah stressor, usia sakit yang diderita, atau trauma, yang semuanya dapat mempengaruhi perkembangan konsep diri.
4)      Stressor
Stressor menantang kapasitas seseorang terhadap adaptasi. Selye (1956) menyatakan bahwa stress adalah kehilangan dan kerusakan normal dari kehidupan, bukan hasil spesifik tindakan seseorang atau respon khas terhadap sesuatu. Proses normal dari kematangan dan perkembangan itu sendiri adalah stressor, dan semua perubahan yang terjadi dalam kesehatan fisik, spiritual, emosional, seksual, kekeluargaan, dan sosiokultural dapat menyebabkan stress.
stressor konsep diri adalah segala perubahan nyata atau yang diserap yang mengancam komponen konsep diri itu sendiri. Dengan kata lain setiap perubahan dalam kesehatan dapat menjadi stressor yang mempengaruhi konsep diri. Untuk itu diperlukan suatu cara dalam menghadapi dan mengatasi atau beradaptasi dengan stressor. yang lebih kenal dengan mekanisme koping.
Contoh perubahan yang mengganggu konsep diri klien
Citra tubuh
§ Stroke     
§ Kebutaan
§ Kolostomi
§ Penuaan
§ Amputasi
§ Obesitas, dll
Harga diri
§ Kehilangan pekerjaan
§ Perceraian
§ Perkosaan
§ Ketidakberhasilan berulang
§ dll
Peran
§ keterbatasan untuk melakukan peran
§ ketidakmampuan untuk menjadi seorang ibu dari seorang anak
§ kehilangan peran yang memuaskan

Identitas
§ perubahan perkembangan seksualitas diri seseorang misalnya menstruasi, pubertas, menopause, pensiunan.
§ Persiapan karier dan kemandirian


F.     CIRI-CIRI KONSEP DIRI
Ciri-ciri Konsep Diri yang Positif
1)      mempunyai penerimaan diri yang baik.
2)      mengenal dirinya sendiri dengan baik.
3)      dapat memahami dan menerima fakta-fakta yang nyata tentang dirinya.
4)      mampu menghargai dirinya sendiri.
5)      mampu menerima dan memberikan pujian secara wajar.
6)      mau memperbaiki diri kearah yang lebih baik.
7)      mampu menempatkan diri di dalam lingkungan.

Ciri-ciri Konsep Diri yang Negatif
  1. peka terhadap kritik.
  2. responsif terhadap pujian.
  3. hiperkritis; individu selalu mengeluh, mencela dan meremehkan
    apapun dan siapapun.
  4. cenderung merasa tidak disenangi oleh orang lain.
  5. pesimis terhadap kompetisi (dalam kehidupan).
  6. tidak dapat menerima kekurangan dirinya.

G.    KRITERIA KEPRIBADIAN YANG SEHAT
Kriteria kepribadian yang sehat
1)      Citra tubuh positif dan akurat
Kesadaran akan diri berdasar atas observasi mendiri dan perhatian yang sesuai akan kesehatan diri termasuk persepsi saat ini dan masa lalu, akan diri sendiri dan perasaan tentang ukuran, fungsi, penampilan dan potensi tubuh.

2)      Ideal dan realitas
Individu mempunyai ideal diri yang realitas dan mempunyai tujuan hidup yang dapat dicapai.
3)      Konsep diri yang positif.
Konsep diri yang positif menunjukkan bahwa individu akan sesuai dalam hidupnya.
4)      Harga diri tinggi
Seseorang yang mempunyai harga diri tinggi akan memandang dirinya sebagai seseorang yang berarti dan bermanfaat. Ia memandang dirinya sama dengan apa yang ia inginkan.
5)      Kepuasan penampilan peran
Individu yang mempunyai kepribadian sehat akan dapat berhubungan dengan orang lain secara intim dan mendapat kepuasan. Ia dapat mempercayai dan terbuka pada orang lain serta membina hubungan interdependen.
6)      Identitas jelas
Individu merasakan keunikan dirinya yang memberi arah kehidupan dalam mencapai tujuan.

Karakteristik konsep diri rendah (Capernito,1995 dalam taylor)
1.      Menghindari sentuhan atau melihat bagian tubuh tertentu
2.      Tidak mau bicara
3.      Menghindari diskusi tentang topic dirinya
4.      Menolak usaha rehabilitasi
5.      Melakukan usaha sendiri dengan tidak tepat
6.      Mengingkari perubahan pada dirinya
7.      Peningkatan ketergantungan pada yang lain
8.      Tanda dan keresahan seperti marah, keputusasaan dan menangis
9.      Menolak berpartisipasi dalam perawatan dirinya
10.  Tingkah laku yang merusak seperti penggunaan obat-obatan dan alcohol
11.  Menghindari kontak sosial
12.  Kurang bertanggung jawab.




H.    GANGGUAN KONSEP DIRI DAN KOMPONENNYA.
1.      Gangguan citra tubuh
Individu yang stabil, realistis dan konsisten terhadap gambaran dirinya akan memperlihatkan kemampuan yang mantap terhadap realisasi yang akan memacu sukses dalam kehidupan. Banyak Faktor dapat yang mempengaruhi gambaran diri seseorang, seperti, munculnya Stresor yang dapat menggangu integrasi gambaran diri. Stresor-stresor tersebut dapat berupa :
a.       Operasi. Seperti : mastektomi, amputsi ,luka operasi yang semuanya mengubah gambaran diri. Demikian pula tindakan koreksi seperti operasi plastik, protesa dan lain –lain.
b.      Kegagalan fungsi tubuh. Seperti hemiplegi, buta, tuli dapat mengakibatkan depersonlisasi yaitu tadak mengkui atau asing dengan bagian tubuh, sering berkaitan dengan fungsi saraf.
c.       Waham yang berkaitan dengan bentuk dan fngsi tubuh
Seperti sering terjadi pada klie gangguan jiwa , klien mempersiapkan penampilan dan pergerakan tubuh sangat berbeda dengan kenyataan.
d.      Tergantung pada mesin. Seperti : klien intensif care yang memandang imobilisasi sebagai tantangan, akibatnya sukar mendapatkan informasi umpan balik engan penggunaan lntensif care dipandang sebagai gangguan.
e.       Perubahan tubuh berkaitan.
Hal ini berkaitan dengan tumbuh kembang dimana seseorang akan merasakan perubahan pada dirinya seiring dengan bertambahnya usia. Tidak jarang seseorang menanggapinya dengan respon negatif dan positif. Ketidakpuasan juga dirasakan seseorang jika didapati perubahan tubuh yang tidak ideal.
f.       Umpan balik interpersonal yang negatif
Umpan balik ini adanya tanggapan yang tidak baik berupa celaan, makian sehingga dapat membuat seseorang menarik diri.
g.      Standard sosial budaya.
Hal ini berkaitan dengan kultur sosial budaya yang berbeda-setiap pada setiap orang dan keterbatasannya serta keterbelakangan dari budaya tersebut menyebabkan pengaruh pada gambaran diri individu, seperti adanya perasaan minder.
Beberapa gangguan pada gambaran diri tersebut dapat menunjukan tanda dan gejala, seperti :
1). Syok Psikologis.
Syok Psikologis merupakan reaksi emosional terhadap dampak perubahan dan dapat terjadi pada saat pertama tindakan.syok psikologis digunakan sebagai reaksi terhadap ansietas. Informasi yang terlalu banyak dan kenyataan perubahan tubuh membuat klien menggunakan mekanisme pertahanan diri seperti mengingkari, menolak dan proyeksi untuk mempertahankan keseimbangan diri.
2)      Menarik diri.
Klien menjadi sadar akan kenyataan, ingin lari dari kenyataan , tetapi karena tidak mungkin maka klien lari atau menghindar secara emosional. Klien menjadi pasif, tergantung , tidak ada motivasi dan keinginan untuk berperan dalam perawatannya.
3)      Penerimaan atau pengakuan secara bertahap.
Setelah klien sadar akan kenyataan maka respon kehilangan atau berduka muncul. Setelah fase ini klien mulai melakukan reintegrasi dengan gambaran diri yang baru.
Tanda dan gejala dari gangguan gambaran diri di atas adalah proses yang adaptif, jika tampak gejala dan tanda-tanda berikut secara menetap maka respon klien dianggap maladaptif sehingga terjadi gangguan gambaran diri yaitu :
a.       Menolak untuk melihat dan menyentuh bagian yang berubah.
b.      Tidak dapat menerima perubahan struktur dan fungsi tubuh.
c.       Mengurangi kontak sosial sehingga terjadi menarik diri.
d.      Perasaan atau pandangan negatif terhadap tubuh.
e.       Preokupasi dengan bagian tubuh atau fungsi tubuh yang hilang
f.       Mengungkapkan keputusasaan.
g.      Mengungkapkan ketakutan ditolak.
2.      Gangguan ideal diri
Gangguan ideal diri adalah ideal diri yang terlalu tinggi, sukar dicapai dan tidak realistis ideal diri yang samar dan tidak jelas dan cenderung menuntut. Pada klien yang dirawat di rumah sakit karena sakit maka ideal dirinya dapat terganggu. Atau ideal diri klien terhadap hasil pengobatan yang terlalu tinggi dan sukar dicapai.
Tanda dan gejala yang dapat dikaji
a.       Mengungkapkan keputusan akibat penyakitnya, misalnya : saya tidak bisa ikut ujian karena sakit, saya tidak bisaa lagi jadi peragawati karena bekas operasi di muka saya, kaki saya yang dioperasi membuat saya tidak main bola.
b.      Mengungkapkan keinginan yang terlalu tinggi, misalnya saya pasti bisa sembuh pada hal prognosa penyakitnya buruk; setelahsehat saya akan sekolah lagi padahal penyakitnya mengakibatkan tidak mungkin lagi sekolah.
3.      Gangguan harga diri
Gangguan harga diri dapat digambarkan sebagai perasaan yang negatif terhadap diri sendiri, hilang kepercayaan diri, merasa gagal mencapai keinginan.Gangguan harga diri yang disebut sebagai harga diri rendah dan dapat terjadi secara :
a.       Situasional, yaitu terjadi trauma yang tiba-tiba, misalnya harus operasi, kecelakaan, dicerai suami, putus sekolah, putus hubungan kerja, perasaan malu karena sesuatu terjadi (korban perkosaan, dituduh KKN, dipenjara tiba-tiba ).
·         Privacy yang kurang diperhatikan, misalnya pemeriksaan fisik yang sembarangan pemasangan alat yang tidak sopan (pengukuran pubis, pemasangan kateler pemeriksaan perincal)
·         Harapan akan struktur, bentuk dan fungsi tubuh yang tidak tercapai karena dirawat/sakit/penyakit.
·         Perlakuan petugas kesehatan yang tidak menghargai, misalnya berbagai pemeriksaan dilakukan tanpa penjelasan, berbagai tindakan tanpa persetujuan
b.      Kronik yaitu perasaan negatif terhadap diri telah berlangsung lama, yaitu sebelum sakit/dirawat klien ini mempunyai cara berpikir yang negatif. Kejadian sakit dan dirawat akan menambah persepsi negatif terhadap dirinya.
Tanda dan gejala yang dapat dikaji
·         Perasaan malu terhadap diri sendiri akibat penyakti dan akibat tindakan terhadap penyakit. Misalnya malu dan sedih karena rambut jadi botak setelah mendapat terapi sinar pada kanker.
·         Rasa bersalah terhadap diri sendiri. Misalnya ini tidak akan terjadi jika saya segera kerumah sakit, menyalahgunakan/mengejek dan mengkritik diri sendiri.
·         Merendahkan martabat. Misalnya saya tidak bisa, saya tidak mampu saya orang bodoh dan tidak tahu apa-apa.
·         Gangguan hubungan sosial, seperti menarik diri. Klien tidak ingin bertemu dengan orang lain, lebih suka sendiri.
·         Percaya diri kurang. klien sukar mengambil keputusan, misalnya tentang memilih alternatif tindakan.
·         Mencederai diri. Akibat harga diri yang rendah disertai harapan yang suram mungkin klien ingin mengakhiri kehidupan.
·         Kegagalan dalam mengikuti aturan moral
4.      Gangguan peran
Gangguan penampilan peran adalah berubah atau berhenti fungsi peran yang disebabkan oleh penyakit, proses menua, putus sekolah, putus hubungan kerja.Pada klien yang sedang dirawat di rumah sakit otomatis peran sosialo klien berubah menjadi peran sakit. Peran klien yang berubah adalah :
Ø Peran dalam keluarga
Ø Peran dalam pekerjaan/sekolah
Ø Peran dalam berbagai kelompok
Ø Klien tidak dapat melakukan peran yang biasa dilakukan selama dirawat di rumah sakit atau setelah kembali dari rumah sakit, klien tidak mungkin melakukan perannya yang biasa.
Tanda dan gejala yang dapat di kaji
·         Mengingkari ketidakmampuan menjalankan peran
·         Ketidakpuasan peran
·         Kegagalan menjalankan peran yang baru
·         Ketegangan menjalankan peran yang baru
·         Kurang tanggung jawab
·         Apatis/bosan/jenuh dan putus asa
5.      Gangguan Identitas
Gangguan identitas adalah kekaburan/ketidakpastian memandang diri sendiri. Penuh dengan keragu-raguan, sukar menetapkan keinginan dan tidak mampu mengambil keputusan pada klien yang dirawat di rumah sakit karena penyakit fisik maka identitas dapat terganggu, karena tubuh klien di kontrol oleh orang lain. Misalnya : Pelaksanaan pemeriksaan dan pelaksanaan tindakan tanpa penjelasan dan persetujuan klien.Ketergantungan pada orang lain. Misalnya : untuk “self-care” perlu dibantu orang lain sehingga otonomi/kemandirian terganggu. Perubahan peran dan fungsi. klien menjalankan peran sakit, peran sebelumnya tidak dapat di jalankan.
Tanda dan gejala yang dapat di kaji
·         Tidak ada percaya diri
·         Sukar mengambil keputusan
·         Ketergantungan
·         Masalah dalam hubungan interpersonal
·         Ragu/ tidak yakin terhadap keinginan
·         Projeksi (menyalahkan orang lain).

I.       FAKTOR RESIKO PENYIMPANGAN KONSEP DIRI
1.      Personal Identity Disturbance
·         Perubahan perkembangan
·         Trauma
·         Ketidaksesuaian Gender
·         Ketidaksesuaian kebudayaan
2.      Body Image Disturbance
·         Kehilangan salah satu fungsi tubuh
·         Kecacatan
·         Perubahan perkembangan
3.      Self Esteem Dusturbance
·         Hubungan interpersonal yang tidak sehat
·         Gagal mencapai perkembangan yang penting
·         Gagal mencpaai tujuan hidup
·         Gagal dalam kehidupan dengan moral tertentu
·         Perasaan tidak berdaya
·         Gagal dalam kehidupan dengan moral tertentu
·         Perasaan tidak berdaya
4.      Altered Role Peformance
·         Kehilangan nilai peran
·         Dua harapan peran
·         Konflik peran
·         Ketidakmampuan menemukan peran yang diinginkan


ASUHAN KEPERAWATAN KONSEP DIRI

A.    PENGKAJIAN
  1. Pengkajian Psikologis
a.       Status emosional
§  Apakah emosi sesuai perilaku?
§  Apakh klien dapat mengendalikan emosi?
§  Bagaimana perasaan klien tampil seperti biasanya?
§  Apakah perasaan hati sekarang merupakan cri khas klien?
§  Apa yang klien lakukan jika marah atau sedih?
b.      Konsep diri
§  Bagaimana klien menilai dirinya sebagai manusia?
§  Bagaimana orang lain menilai diri klien
§  Apakah klien suka akan dirinya?
c.       Cara berkomunikasi
§  Apakah klien mudah merespon?
§  Apakah spontanitas atau hanya jika ditanya?
§  Bagaimana perilaku nonverbal klien dalam berkomunikasi?
§  Apakah klien menolak untuk memberi respon?
d.      Pola interaksi
§  Kepada siapa klien mau berinterkasi?
§  Siapa yang penting atau berpengaruh bagi klien?
§  Bagaimana sifat asli klien : mendominasi atau positif
  1. Pengkajian Sosial
a.       Pendidikan dan pekerjaan
§  Pendidikan terakhir
§  Keterampilan yang mampu dilakukan
§  Pekerjaan klien
§  Status keuangan
b.      Hubungan sosial
§  Teman dekat klien
§  Bagaimana klien menggunakan waktu luang?
§  Apakah klien berkecimpung dalam kelompok masyarakat?
c.       Faktor kultur sosial
§  Apakah agama dan kebudayaan klien?
§  Bagaimana tingkat pemahaman klien klien tentang agama?
§  Apakah bahasa klien memadai untuk berkomunikasi dengan orang lain?
d.      Pola hidup
§  Dimana tempat klien?
§  Bagaimana tempat tinggal klien?
§  Dengan siapa klien tinggal?
§  Apa yang klienlakukan untuk menyenangkan diri?
e.       Keluarga
§  Apakah klien sudah menikah?
§  Apakah klien sudah mempunyai anak?
§   Bagaimana status kesehatan klien dan keluarga?
§  Masalah apa yang terutama dalam keluarga?
§  Bagaimana tingkat kecemasan klien?

B.     DIAGNOSA KEPERAWATAN, INTERVENSI & EVALUASI
  1. Gangguan konsep diri: citra tubuh negatif
Defenisi : kondisi dimana seseorang mengalami kerusakan / tidak mau menerima keadaan tubuhnya.
Kemungkinan berhubungan dengan:
a.       Perubahan menetap pada tubuh klien
b.      Amputasi
c.       Mastektomi
d.      Kolostomi
e.       Luka bakar
f.       Efek pengobatan
Kemungkinan data yang ditemukan
a.       Secara verbal mengatakan membenci / tidak menyukai bagian tubuhnya
b.      Menghindari bagian tubuh tertentu
c.       Perubahan struktur / fungsi tubuh
d.      Tidak mau menyentuh bagian tertentu
e.       Perasaan negatif terhadap bagian tubuhnya
Tujuan yang diharapkan:
a.       Pasien dapat menerima keadaan tubuhnya secara proporsional
b.      Pasien dapat beradaptasi dengan keadaan tubuhnya.

Intervensi
Rasional
1.      Binalah hubungan saling percaya

2.      Kajilah penyebab gangguan citra tubuh
3.      Kajilah kemampuan yang dimiliki klien

4.      Eksplorasi aktivitas baru yang dapat dilakukan
1.      Dasar mengembangkan tindakan keperawatan
2.      Merencenakan intervensi lebih lanjut

3.       Alternatif memanfaatkan kemampuan dengan menutupi kekurangan
4.      memfasilitasi dengan memanfaatkan kelebihan

  1. Cemas
Defenisi : perasaan tidak menyenangkan disebabkan oleh sumber yang tidak jelas / tidak spesifik.
Kemungkinan berhubungan dengan:
a.       Ancaman perubahan status kesehatan dan status ekonomi
b.      Situasi krisis
c.       Ancaman Kematian
d.      Kurang pengetahuan
Kemungkinan data yang ditemukan
a.       Perilaku takut
b.      Meningkatnya TD dan kesulitan tidur
c.       Wajah tegang
d.      Perasaan kacau
e.       Menangis
f.       Marah
g.      Menarik diri
Kondisi klinis kemungkinan terjadi pada:
a.       Keadaan RS
b.      Penyakit terminal
c.       Pembedahan
d.      psikotik
Tujuan yang diharapkan:
a.       Pasien dapat menurunkan kecemasan
b.      Pasien dapat mendemonstrasikan cara penurunan kecemasan
Intervensi
Rasional
1.      Kaji riwayat masuk RS
2.      Monitor hubungan perilaku cemas, aktivitas dan kejadian setiap 2 jam


3.      Yakinkan klien bahwa cemas adalah reaksi normal, Bantu identifikasi tanda-tanda kecemasan seperti napas lebih cepat, nadi cepat dan berkeringat dingin
4.      Berikan ketenangan dengan memberikan lingkungan yang nyaman
5.      Jelaskan semua prosedur dan tujuan dengan singkat dan jelas
6.      Monitor tanda vital setiap 4 jam
7.      Kolaborasi untuk pemberian obat anti cemas (penenang) dan monitornya efeknya setiap 30 menit
8.      Kaji kemungkinan adanya perilaku menyimpang ; perkelahian, merokok dll
9.      Bantu pasien dalam kemampuan koping
10.  Lakukan tehnik relaksasi ; napas dalam dan membaca
11.  Kolaborasi dengan psikiater ; hal-hal yang mengganggu seperti lampu yang silau, suasana yang gaduh, dan cuaca yang panas.
1.      Identifikasi factor penyebab
2.      Ketika cemas meningkat pasien kurang kooperatif dan ada kemungkinan terjadi perubahan rencana keperawatan
3.      Membantu mengidentifikasi hubungan antara partisipasi dengan kecemasan


4.       Lingkungan yang nyaman membantu memfokuskan pikiran dan aktivitas

5.      Pasien yang kooperatif

6.      Membantu menentukan efek cemas
7.      Efek pengobatan membantu menurunkan cemas

8.      Mencegah terjadi penyimpangan perilaku

9.      Koping yang positif dapat menurunkan kecemasan
10.  Relaksasi menurunkan kecemasan

11.  Mengatasi masalah kecemasan

  1. Takut
Defenisi : perasaan tidak menyenangkan disebabkan oleh sumber yang dapat diidentifikasi oleh pasien.
Kemungkinan berhubungan dengan:
a.       Hospitalisasi
b.      Ancaman kehilangan bagian tubuh dan fungsi tubuh
c.       Antisipasi nyeri
Kemungkinan data yang ditemukan
a.       Berkeringat dingin
b.      Ekspresi Wajah cemas
c.       Menangis
d.      Wajah tegang
Kondisi klinis kemungkinan terjadi pada:
a.       Ancaman terhasap penyakit
b.      Kondisi psikiatri
Tujuan yang diharapkan:
a.       Pasien dapat merancang penurunan rasa takut
b.      Pasien dapat mengidentifikasi penyebab ketakutan
c.       Secara verbal pasien mengatakan tidak takut lagi

Intervensi
Rasional
1.      Kaji penyebab rasa takut pasien
2.      Pertahankan keadaan lingkungan RS dan kenyamanannya
3.      Intervensi bahwa rasa takut dapat diatasi
4.      Gunakan sentuhan tangan jika diterima
5.      Monitor tanda vital, tingkat kesadaran, perubahan perilaku setiap 4 jam
6.      Berikan dukungan positif
7.      Bantu pasien dalam mengambil keputusan
8.      Beri umpan balik positif dari keputusan yang diambil
9.      Lakukan tehnik relaksasi
10.  Kolaborasi dengan psikiater
1.      Mengidentifikasi rasa takut
2.      Menurunkan rasa takut

3.      Pasien merasa termotivasi

4.      Jalan untuk mendekatkan diri

5.      Menentukan perubahan fisiologi tubuh

6.      Meningkatkan optimisme
7.      Membantu memecahkan masalah

8.      Meningkatkan kekuatan pasien

9.      Menurunkan ketakutan
10.  Pelayanan Holistik

Tidak ada komentar:

Posting Komentar