K O N S E P D I
R I
(SELF CONCEPT)
Manusia adalah mahluk biopsikososial yang unik dan
menerapkan sistem terbuka serta saling berinterkasi. Manusia selalu berusaha
untuk mempertahankan keseimbangan hidupnya. Keseimbangan yang dipertahankan
oleh setiap individu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya disebut
sehat.
Pada hirarki dalam kebutuhan maslow menyatakan bahwa
tingkat yang paling tinggi dala kebutuhan manusia adalah tercapainya
aktualisasi diri. Untuk mencapai kebutuhan tersebut diperlukan konsep diri yang
sehat. berikut ini beberapa uraian tentang konsep diri dan asuhan keperawatannya.
A. PENGERTIAN
Konsep diri adalah semua perasaan, kepercayaan, dan nilai yang diketahui
individu tentang dirinya dan mempengaruhi individu dalam berhubungan dengan
orang lain (Stuart & Sundeen, 1991).
Konsep diri adalah cara individu dalam melihat pribadinya secara utuh
menyangkut fisik, emosi, intelektual, sosial dan spiritual. Termasuk didalamnya
persepsi individu tentang sifat dan potensi yang dimilikinya, interkasi
individu dengan ornag lain maupun lingkungannya, nilai-nilai yang berkaitan
dengan pengalman dan objek serta tujuan, harapan, dan keinginnya.
Konsep diri merupakan bagian dari masalah kebutuhan psikososial yang tidak
dapat sejak lahir akan tetapi dapat dipelajari sebagai hasil dari pengalaman
sesorang terhadap dirinya dan berkembang sesuai dengan perkembangan psikososial
sesorang. Maka pembentukan konsep diri ini sangat dipengaruhi oleh asuhan orang
tua dan lingkunganya.
Rentang Respon Konsep
Diri
Konsep diri positif Kekacauan Identitas
Aktualisasi diri Harga diri rendah Depersonalisasi
B. KOMPONEN KONSEP DIRI
Komponen konsep diri terdiri dari
empat yaitu citra tubuh / diri, harga diri, peran / ideal diri, dan identitas
diri.
1)
Citra Tubuh (body image)
v Citra tubuh adalah sikap seseorang terhadap tubuhnya secara sadar
dan tidak sadar (Stuart dan Sundeen, 1991). Sikap ini mencakup persepsi dan
perasan tentang ukuran dan bentuk, fungsi, penampilan dan potensi tubuh saat
ini dan masa lalu. Sedangkan Menurut Potter dan Perry (1997) citra tubuh adalah
persepsi seseorang tentang tubuhnya , baik secara internal maupun eksternal.
v Mencakup persepsi dan perasaan atau sikap individu terhadap tubuhnya
sendiri, termasuk penampilan fisik, struktur, dan fungsinya.
v Dipengaruhi oleh pertumbuhan kognitif dan perkembangan fisik,
perubahan perkembangan yang normal seperti pubertas dan penuaan.selain itu juga
sosial dan nilai kultural. Budaya dan masyarakat menentukan norma-norma yang
diterima luas mengenai citra diri dan dapat mempengaruhi pandangan pribadi
tentang karakteristik dan kemampuan fisik. Misalnya warna kulit, cantik, kurus
dsb.
v Hal-hal yang penting terkait dengan gambaran diri (citra tubuh)
yaitu:
a.
Fokus individu terhadap fisik
lebih menonjol pada usia remaja.
b.
Bentuk tubuh, BB, TB serta
tanda-tanda pertumbuhan kelamin, menjadi gambaran diri
c.
Cara individu memandang diri berdampak
penting terhadap aspek psikologis
d.
Gambaran yang realistic
terhadap menerima dan menyukai bagian tubuh, akan memberikan rasa aman dalam
menghindari kecemasan dan meningkatkan harga diri.
e.
Individu yang stabil,
realistic, dan konsisten terhadap gambaran dirinya dapat mendorong sukses dalam
kehidupan.
2)
Harga Diri (self esteem)
v Harga diri adalah penilaian individu tentang dirinya dengan
menganalisa kesesuaian antara perilaku dan ideal diri yang lain.
v Harga diri dapat diperoleh melalui penghargaan diri sendiri maupun
dari orang lain.
v Perkembangan harga diri juga ditentukan oleh perasaan diterima,
dicintai, dihormati oleh orang lain, serta keberhasilan yang pernah dicapai
individu dalam hidupnya. Contoh jika sesorang selalu sukses maka cenderung
harga dirinya akan tinggi dan jika mengalami gagal cenderung harga diri menjadi
rendah. Dengan kata lain individu akan berhasil atau hidupnya bermakna apabila
diterima dan diakui orang lain atau merasa mampu menghadapi kehidupan dan mampu
mengontrol dirinya.
v Aspek utama adalah dicinta dan menerima penghargaan dari orang lain.
Harga diri akan rendah jika kehilangan cinta dan seseorang kehilangan
penghargaan dari orang lain (Stuart dan Laraia, 2005). Harga diri yang rendah
dapat berupa : mengkritik diri sendiri, perasaan tidak mampu, rasa bersalah,
mudah tersinggung, pesimis, gangguan berhubungan (isolasi/menarik diri) dan
merusak diri (Kelliat, 1992).
v Keluarga dan masyarakat merupakan seperangkat standar yang biasa
digunakan oleh seseorang yang akan mengevaluasi dirinya sendiri (Potter dan
Perry, 1997). Keluarga sebagai sistem pendukung utama untuk membantu seseorang
meningkatkan harga dirinya. Menurut Braid, dkk seperti yang dikutip Keliat
(1992), keluarga dan sistem pendukung sosial dapat membantu meningkatkan harga
diri seseorang dengan cara :
a)
Memberi kesempatan untuk
mengungkapkan perasaan.
b)
Menegaskan pentingnya klien.
c)
Menolong membuka perasaan
negatif.
d)
Memberi umpan balik perilaku.
e)
Memberi rasa percaya dan
keyakinan.
f)
Memberi informasi yang
dibutuhkan.
g)
Berperan sebagai pembela.
h)
Memberi dukungan yang
bervariasi : uang, bantuan fisik, material dan tanggunga jawab.
i)
Menghargai penilaian personal
yang cocok terhadap kejadian.
3)
Peran / Ideal Diri (self role)
v Peran adalah serangkaian perilaku yang diharapkan oleh masyarakat
yang sesuai dengan fungsi yang ada dalam masyarakat atau suatu pola sikap,
perilaku, nilai dan tujuan yang diharapkan dari seseorang berdasarkan posisinya
di masyarakat. Misalnya sebagai orang tua, atasan, teman dekat, dsb.
v Perilaku tersebut diharapkan dapat diterima oleh keluarga,
masyarakat dan budaya. Peran yang ditetapkan adalah peran dimana seseorang
tidak punya pilihan. Peran yang diterima adalah peran yang terpilih dan dipilih
oleh individu. Setiap orang mempunyai peran lebih dari satu. Untuk dapat
berfungsi efektif sesuai dengan perannya, seseorang harus tahu perilaku dan
nilai-nilai yang diharapkan, harus berkeinginan untuk menyesuaikan diri dan
harus mampu mencukupi peran yang dikehendaki (Potter dan Perry, 1997).
v Faktor-faktor yang menyebabkan seseorang menyesuaikan diri dengan
peran yang diterimanya adalah pengetahuan tentang peran yang diharapkan, respon
yang konsisten dari orang lain terhadap peran, kecocokan dan kelengkapan
berbagai peran, kesesuaian antara norma budaya dan harapan terhadap perilaku
peran dan pemisahan situasi yang akan membuat perilaku peran yang bertentangan
(Stuart dan Laraia, 2005). Posisi dibutuhkan oleh individu sebagai aktualisasi
diri. Posisi di masyarakat dapat merupakan stressor terhadap peran karena
struktur sosial yang menimbulkan kesukaran, tuntutan, posisi yang tidak mungkin
dilaksanakan (Keliat, 1992).
v Setiap peran berhubungan dengan pemenuhan harapan-harapan tertentu.
Apabila harapan tersebut dapat terpenuhi rasa percaya diri seseorang akan
meningkat
v Hal-hal yang terkait dengan ideal diri :
a.
Perkembangan awal terjadi pada
masa kanak-kanak
b.
Terbentuknya masa remaja
melalui proses identifikasi terhadap orang tua, guru dan teman.
c.
Dipengaruhi oleh orang-orang
yang dipandang penting dalam memberi tuntutan dan harapan
d.
Mewujudkan cita-cita dan
harapan pribadi berdasarkan norma keluarga dan sosial
v Faktor-faktor yang
mempengaruhi :
a.
Menetapkan ideal diri sebatas
kemampuan
b.
Faktor culture dibandingkan
dengan standar orang lain
c.
Hasrat melibihi orang lain
d.
Hasrat untuk berhasil
e.
Hasrat memenuhi kebutuhan
realistic
f.
Hasrat menghindari kegagalan
g.
Adanya perasaan cemas dan rendah diri.
4)
Identitas Diri (self identity).
v Adalah penilaian individu tentang dirinya sebagai suatu kesatuan
yang utuh. Mencakup konsistensi seseotang sepanjang waktu dan dalam berbagai
keadaan serta menyiratkan perbedaan atau keunikan di bandingkan dengan orang
lain. Identitas diri sering kali didapat melalui pengamatan sendiri dan dari
apa yang didengar seseorang dari orang lain mengenai dirinya.
v Ciri identitas diri
a.
Memahami diri sendiri sebagai
organisme yang utuh, berbeda dan terpisah dari orang lain.
b.
Menilai diri sendiri sesuai
dengan penilaian masyarakat
c.
Mengakui jenis kelamin sendiri
d.
Memandang berbagai aspek dalam
dirinya sebagai suatu keserasian dan keselarasan
e.
Mempunyai tujuan yang bernilai
dan dapat direalisasikan.
C.
Pembentukan Konsep Diri
Konsep
diri tidak dibawa sejak lahir tetapi secara bertahap sedikit demi sedikit
timbul sejalan dengan berkembangnya kemampuan persepsi individu. Konsep diri
manusia terbentuk melalui proses belajar sejak masa pertumbuhan seseorang dari
kecil hingga dewasa. Bayi yang baru lahir tidak memiliki konsep diri karena
mereka tidak dapat membedakan antara dirinya dengan lingkungannya. Menurut
Allport: bayi yang baru lahir tidak mengetahui tentang dirinya.
Rahmat (2000: 100), menjelaskan bahwa konsep diri bukan hanya
sekedar gambaran deskriptif, tapi juga penilaian diri anda tentang diri anda.
Jadi konsep diri meliputi apa yang anda pikirkan dan apa yang anda rasakan
tentang diri anda. Adanya proses perkembangan konsep diri menunjukan bahwa
konsep diri seseorang tidak langsung dan menetap, tetapi merupakan suatu
keadaan yang mempunyai proses pembentukan dan masih dapat berubah.
D. TAHAP PERKEMBANGAN KONSEP
DIRI
Menurut teori psikososial,
perkembangan konsep diri dapat dibagi ke dalam beberapa tahap, yatiu :
0 – 1 tahun
Ø Mulai untuk mempercayai
Ø Membedakan dirinya dari lingkungan
1 - 3 tahun
Ø Mempunyai control terhadap beberapa bahasa
Ø Mulai menjadi otonom dalam pikiran dan tindakan
Ø Menyukai tubuhnya
Ø Mengembangkan dirinya dengan mencontohi orang yang dikagumi, meniru
dan bersosialisasi
3 – 6 tahun
Ø Mengambil inisiatif
Ø Mengidentifikasi gender
Ø Meningkatkan kewaspadaan / kesadaran diri
Ø Keterampilan berbahasa meningkat
6 – 12 tahun
Ø Menggabungkan umpan balik dari teman sebaya dan guru, keluarga tidak
lagi dominan
Ø Meningkatkan harga dirinya dengan penguasaan keterampilan baru (mis
membaca, matematika, Olahraga, musik)
Ø Menguatkan identitas seksual
Ø Menyadari kekuatan dan kelemahan
12 – 20 tahun
Ø Menerima perubahan tubuh / kedewasaan
Ø Menggali untuk tujuan masa depan
Ø Merasa positif atas berkembangnya konsep diri
Ø Berinterkasi dengan orang lain-orang yang menurutnya menarik secara
seksual atau intelektual
20 – 40 tahun
Ø Mempunyai hubungan intim dengan keluarga dan orang lain
Ø Memiliki perasaan yang stabil dan positif mengenai diri
Ø Mengalami keberhasilan transisi peran dan meningkatnya tanggung
jawab.
40 – 60 tahun
Ø Dapat menerima perubahan penampilan dan ketahanan fisik
Ø Mengevaluasi tujuan hidup
Ø Merasa nyaman dengan proses penuaan
Di atas 60 tahun
Ø Merasa positif mengenai hidup dan makna kehidupan
Ø Berkeinginan warisan bagi generasi berikutnya
E. FAKTOR-FAKTOR YANG
MEMPENGARUHI KONSEP DIRI
1)
Tingkat perkembangan dan
kematangan
Perkembangan anak seperti dukungan mental, perlakuan,
dan pertumbuhan akan mempengaruhi konsep dirinya. Adanya dukungan mental yang
cukup membentuk konsep diri yang cukup sebaliknya, kegagalan selama masa tumbuh
kembang akan membentuk konsep diri yang kurang memadai.
2)
Budaya
Pada usia anak-anak nilai-nilai akan diadopsi dari orang
tuanya, kelompoknya dan lingkungannya.
3)
Pengalaman masa lalu
Adanya umpan balik dari orang-orang penting, situasi
stressor sebelumnya, penghargaan diri dan pengalaman sukses atau gagal
sebelumnya, pengalaman penting dalam hidup atau faktor yang berkaitan dengan
masalah stressor, usia sakit yang diderita, atau trauma, yang semuanya dapat
mempengaruhi perkembangan konsep diri.
4)
Stressor
Stressor menantang kapasitas seseorang terhadap
adaptasi. Selye (1956) menyatakan bahwa stress adalah kehilangan dan kerusakan
normal dari kehidupan, bukan hasil spesifik tindakan seseorang atau respon khas
terhadap sesuatu. Proses normal dari kematangan dan perkembangan itu sendiri
adalah stressor, dan semua perubahan yang terjadi dalam kesehatan fisik,
spiritual, emosional, seksual, kekeluargaan, dan sosiokultural dapat
menyebabkan stress.
stressor konsep diri adalah segala perubahan nyata atau
yang diserap yang mengancam komponen konsep diri itu sendiri. Dengan kata lain
setiap perubahan dalam kesehatan dapat menjadi stressor yang mempengaruhi
konsep diri. Untuk itu diperlukan suatu cara dalam menghadapi dan mengatasi
atau beradaptasi dengan stressor. yang lebih kenal dengan mekanisme koping.
Contoh perubahan yang mengganggu konsep diri klien
|
Citra tubuh
§
Stroke
§
Kebutaan
§
Kolostomi
§
Penuaan
§
Amputasi
§
Obesitas, dll
|
Harga diri
§
Kehilangan pekerjaan
§
Perceraian
§
Perkosaan
§
Ketidakberhasilan berulang
§
dll
|
|
Peran
§
keterbatasan untuk melakukan
peran
§
ketidakmampuan untuk menjadi
seorang ibu dari seorang anak
§
kehilangan peran yang
memuaskan
|
Identitas
§
perubahan perkembangan seksualitas
diri seseorang misalnya menstruasi, pubertas, menopause, pensiunan.
§
Persiapan karier dan
kemandirian
|
F. CIRI-CIRI KONSEP DIRI
Ciri-ciri Konsep Diri yang
Positif
1) mempunyai penerimaan diri yang baik.
2)
mengenal
dirinya sendiri dengan baik.
3)
dapat
memahami dan menerima fakta-fakta yang nyata tentang dirinya.
4)
mampu
menghargai dirinya sendiri.
5)
mampu
menerima dan memberikan pujian secara wajar.
6)
mau
memperbaiki diri kearah yang lebih baik.
7)
mampu
menempatkan diri di dalam lingkungan.
Ciri-ciri Konsep Diri yang Negatif
- peka terhadap kritik.
- responsif terhadap pujian.
- hiperkritis; individu selalu mengeluh,
mencela dan meremehkan
apapun dan siapapun. - cenderung merasa tidak disenangi oleh orang lain.
- pesimis terhadap kompetisi (dalam kehidupan).
- tidak dapat menerima kekurangan dirinya.
G. KRITERIA KEPRIBADIAN YANG
SEHAT
Kriteria kepribadian yang sehat
1)
Citra tubuh positif dan akurat
Kesadaran akan diri berdasar atas observasi mendiri dan
perhatian yang sesuai akan kesehatan diri termasuk persepsi saat ini dan masa
lalu, akan diri sendiri dan perasaan tentang ukuran, fungsi, penampilan dan
potensi tubuh.
2)
Ideal dan realitas
Individu mempunyai ideal diri yang realitas dan
mempunyai tujuan hidup yang dapat dicapai.
3)
Konsep diri yang positif.
Konsep diri yang positif menunjukkan bahwa individu akan
sesuai dalam hidupnya.
4)
Harga diri tinggi
Seseorang yang mempunyai harga diri tinggi akan
memandang dirinya sebagai seseorang yang berarti dan bermanfaat. Ia memandang
dirinya sama dengan apa yang ia inginkan.
5)
Kepuasan penampilan peran
Individu yang mempunyai kepribadian sehat akan dapat
berhubungan dengan orang lain secara intim dan mendapat kepuasan. Ia dapat
mempercayai dan terbuka pada orang lain serta membina hubungan interdependen.
6)
Identitas jelas
Individu merasakan keunikan dirinya yang memberi arah
kehidupan dalam mencapai tujuan.
Karakteristik konsep diri rendah (Capernito,1995 dalam taylor)
1.
Menghindari sentuhan atau
melihat bagian tubuh tertentu
2.
Tidak mau bicara
3.
Menghindari diskusi tentang
topic dirinya
4.
Menolak usaha rehabilitasi
5.
Melakukan usaha sendiri dengan
tidak tepat
6.
Mengingkari perubahan pada
dirinya
7.
Peningkatan ketergantungan pada
yang lain
8.
Tanda dan keresahan seperti
marah, keputusasaan dan menangis
9.
Menolak berpartisipasi dalam
perawatan dirinya
10.
Tingkah laku yang merusak
seperti penggunaan obat-obatan dan alcohol
11.
Menghindari kontak sosial
12.
Kurang bertanggung jawab.
H. GANGGUAN KONSEP DIRI DAN
KOMPONENNYA.
1.
Gangguan citra tubuh
Individu yang stabil, realistis dan konsisten terhadap
gambaran dirinya akan memperlihatkan kemampuan yang mantap terhadap realisasi
yang akan memacu sukses dalam kehidupan. Banyak Faktor dapat yang mempengaruhi
gambaran diri seseorang, seperti, munculnya Stresor yang dapat menggangu
integrasi gambaran diri. Stresor-stresor tersebut dapat berupa :
a.
Operasi. Seperti : mastektomi, amputsi
,luka operasi yang semuanya mengubah gambaran diri. Demikian pula tindakan
koreksi seperti operasi plastik, protesa dan lain –lain.
b.
Kegagalan fungsi tubuh. Seperti
hemiplegi, buta, tuli dapat mengakibatkan depersonlisasi yaitu tadak mengkui
atau asing dengan bagian tubuh, sering berkaitan dengan fungsi saraf.
c.
Waham yang berkaitan dengan bentuk dan
fngsi tubuh
Seperti sering terjadi pada klie gangguan jiwa , klien mempersiapkan penampilan dan pergerakan tubuh sangat berbeda dengan kenyataan.
Seperti sering terjadi pada klie gangguan jiwa , klien mempersiapkan penampilan dan pergerakan tubuh sangat berbeda dengan kenyataan.
d.
Tergantung pada mesin. Seperti : klien intensif
care yang memandang imobilisasi sebagai tantangan, akibatnya sukar mendapatkan
informasi umpan balik engan penggunaan lntensif care dipandang sebagai
gangguan.
e.
Perubahan tubuh berkaitan.
Hal ini berkaitan dengan tumbuh kembang dimana seseorang
akan merasakan perubahan pada dirinya seiring dengan bertambahnya usia. Tidak
jarang seseorang menanggapinya dengan respon negatif dan positif. Ketidakpuasan
juga dirasakan seseorang jika didapati perubahan tubuh yang tidak ideal.
f.
Umpan balik interpersonal yang negatif
Umpan balik ini adanya tanggapan yang tidak baik berupa
celaan, makian sehingga dapat membuat seseorang menarik diri.
g.
Standard sosial budaya.
Hal ini berkaitan dengan kultur sosial budaya yang
berbeda-setiap pada setiap orang dan keterbatasannya serta keterbelakangan dari
budaya tersebut menyebabkan pengaruh pada gambaran diri individu, seperti
adanya perasaan minder.
Beberapa gangguan pada gambaran diri tersebut dapat
menunjukan tanda dan gejala, seperti :
1). Syok Psikologis.
Syok Psikologis merupakan reaksi emosional terhadap
dampak perubahan dan dapat terjadi pada saat pertama tindakan.syok psikologis
digunakan sebagai reaksi terhadap ansietas. Informasi yang terlalu banyak dan
kenyataan perubahan tubuh membuat klien menggunakan mekanisme pertahanan diri
seperti mengingkari, menolak dan proyeksi untuk mempertahankan keseimbangan
diri.
2)
Menarik diri.
Klien menjadi sadar akan kenyataan, ingin lari dari
kenyataan , tetapi karena tidak mungkin maka klien lari atau menghindar secara
emosional. Klien menjadi pasif, tergantung , tidak ada motivasi dan keinginan
untuk berperan dalam perawatannya.
3)
Penerimaan atau pengakuan
secara bertahap.
Setelah klien sadar akan kenyataan maka respon
kehilangan atau berduka muncul. Setelah fase ini klien mulai melakukan
reintegrasi dengan gambaran diri yang baru.
Tanda dan gejala dari gangguan gambaran diri di atas
adalah proses yang adaptif, jika tampak gejala dan tanda-tanda berikut secara
menetap maka respon klien dianggap maladaptif sehingga terjadi gangguan gambaran
diri yaitu :
a.
Menolak untuk melihat dan
menyentuh bagian yang berubah.
b.
Tidak dapat menerima perubahan
struktur dan fungsi tubuh.
c.
Mengurangi kontak sosial
sehingga terjadi menarik diri.
d.
Perasaan atau pandangan negatif
terhadap tubuh.
e.
Preokupasi dengan bagian tubuh
atau fungsi tubuh yang hilang
f.
Mengungkapkan keputusasaan.
g.
Mengungkapkan ketakutan
ditolak.
2.
Gangguan ideal diri
Gangguan ideal diri adalah ideal diri yang terlalu
tinggi, sukar dicapai dan tidak realistis ideal diri yang samar dan tidak jelas
dan cenderung menuntut. Pada klien yang dirawat di rumah sakit karena sakit
maka ideal dirinya dapat terganggu. Atau ideal diri klien terhadap hasil
pengobatan yang terlalu tinggi dan sukar dicapai.
Tanda dan gejala yang dapat dikaji
a.
Mengungkapkan keputusan akibat
penyakitnya, misalnya : saya tidak bisa ikut ujian karena sakit, saya tidak
bisaa lagi jadi peragawati karena bekas operasi di muka saya, kaki saya yang
dioperasi membuat saya tidak main bola.
b.
Mengungkapkan keinginan yang
terlalu tinggi, misalnya saya pasti bisa sembuh pada hal prognosa penyakitnya
buruk; setelahsehat saya akan sekolah lagi padahal penyakitnya mengakibatkan
tidak mungkin lagi sekolah.
3.
Gangguan harga diri
Gangguan harga diri dapat digambarkan sebagai perasaan
yang negatif terhadap diri sendiri, hilang kepercayaan diri, merasa gagal
mencapai keinginan.Gangguan harga diri yang disebut sebagai harga diri rendah
dan dapat terjadi secara :
a.
Situasional, yaitu terjadi
trauma yang tiba-tiba, misalnya harus operasi, kecelakaan, dicerai suami, putus
sekolah, putus hubungan kerja, perasaan malu karena sesuatu terjadi (korban
perkosaan, dituduh KKN, dipenjara tiba-tiba ).
·
Privacy yang kurang
diperhatikan, misalnya pemeriksaan fisik yang sembarangan pemasangan alat yang
tidak sopan (pengukuran pubis, pemasangan kateler pemeriksaan perincal)
·
Harapan akan struktur, bentuk
dan fungsi tubuh yang tidak tercapai karena dirawat/sakit/penyakit.
·
Perlakuan petugas kesehatan
yang tidak menghargai, misalnya berbagai pemeriksaan dilakukan tanpa
penjelasan, berbagai tindakan tanpa persetujuan
b.
Kronik yaitu perasaan negatif
terhadap diri telah berlangsung lama, yaitu sebelum sakit/dirawat klien ini
mempunyai cara berpikir yang negatif. Kejadian sakit dan dirawat akan menambah
persepsi negatif terhadap dirinya.
Tanda dan gejala yang dapat dikaji
Tanda dan gejala yang dapat dikaji
·
Perasaan malu terhadap diri
sendiri akibat penyakti dan akibat tindakan terhadap penyakit. Misalnya malu
dan sedih karena rambut jadi botak setelah mendapat terapi sinar pada kanker.
·
Rasa bersalah terhadap diri
sendiri. Misalnya ini tidak akan terjadi jika saya segera kerumah sakit,
menyalahgunakan/mengejek dan mengkritik diri sendiri.
·
Merendahkan martabat. Misalnya
saya tidak bisa, saya tidak mampu saya orang bodoh dan tidak tahu apa-apa.
·
Gangguan hubungan sosial,
seperti menarik diri. Klien tidak ingin bertemu dengan orang lain, lebih suka
sendiri.
·
Percaya diri kurang. klien
sukar mengambil keputusan, misalnya tentang memilih alternatif tindakan.
·
Mencederai diri. Akibat harga
diri yang rendah disertai harapan yang suram mungkin klien ingin mengakhiri
kehidupan.
·
Kegagalan dalam mengikuti
aturan moral
4.
Gangguan peran
Gangguan penampilan peran adalah berubah atau berhenti
fungsi peran yang disebabkan oleh penyakit, proses menua, putus sekolah, putus
hubungan kerja.Pada klien yang sedang dirawat di rumah sakit otomatis peran
sosialo klien berubah menjadi peran sakit. Peran klien yang berubah adalah :
Ø Peran dalam keluarga
Ø Peran dalam pekerjaan/sekolah
Ø Peran dalam berbagai kelompok
Ø Klien tidak dapat melakukan peran
yang biasa dilakukan selama dirawat di rumah sakit atau setelah kembali dari
rumah sakit, klien tidak mungkin melakukan perannya yang biasa.
Tanda dan gejala yang dapat di kaji
·
Mengingkari ketidakmampuan
menjalankan peran
·
Ketidakpuasan peran
·
Kegagalan menjalankan peran yang
baru
·
Ketegangan menjalankan peran
yang baru
·
Kurang tanggung jawab
·
Apatis/bosan/jenuh dan putus
asa
5.
Gangguan Identitas
Gangguan identitas adalah kekaburan/ketidakpastian
memandang diri sendiri. Penuh dengan keragu-raguan, sukar menetapkan keinginan
dan tidak mampu mengambil keputusan pada klien yang dirawat di rumah sakit
karena penyakit fisik maka identitas dapat terganggu, karena tubuh klien di
kontrol oleh orang lain. Misalnya : Pelaksanaan pemeriksaan dan pelaksanaan
tindakan tanpa penjelasan dan persetujuan klien.Ketergantungan pada orang lain.
Misalnya : untuk “self-care” perlu dibantu orang lain sehingga
otonomi/kemandirian terganggu. Perubahan peran dan fungsi. klien menjalankan
peran sakit, peran sebelumnya tidak dapat di jalankan.
Tanda dan gejala yang dapat di kaji
·
Tidak ada percaya diri
·
Sukar mengambil keputusan
·
Ketergantungan
·
Masalah dalam hubungan
interpersonal
·
Ragu/ tidak yakin terhadap
keinginan
·
Projeksi (menyalahkan orang
lain).
I.
FAKTOR RESIKO PENYIMPANGAN
KONSEP DIRI
1.
Personal Identity Disturbance
·
Perubahan perkembangan
·
Trauma
·
Ketidaksesuaian Gender
·
Ketidaksesuaian kebudayaan
2.
Body Image Disturbance
·
Kehilangan salah satu fungsi
tubuh
·
Kecacatan
·
Perubahan perkembangan
3.
Self Esteem Dusturbance
·
Hubungan interpersonal yang
tidak sehat
·
Gagal mencapai perkembangan
yang penting
·
Gagal mencpaai tujuan hidup
·
Gagal dalam kehidupan dengan
moral tertentu
·
Perasaan tidak berdaya
·
Gagal dalam kehidupan dengan
moral tertentu
·
Perasaan tidak berdaya
4.
Altered Role Peformance
·
Kehilangan nilai peran
·
Dua harapan peran
·
Konflik peran
·
Ketidakmampuan menemukan peran
yang diinginkan
ASUHAN KEPERAWATAN KONSEP
DIRI
A. PENGKAJIAN
- Pengkajian Psikologis
a.
Status emosional
§ Apakah emosi sesuai perilaku?
§ Apakh klien dapat mengendalikan emosi?
§ Bagaimana perasaan klien tampil seperti biasanya?
§ Apakah perasaan hati sekarang merupakan cri khas klien?
§ Apa yang klien lakukan jika marah atau sedih?
b.
Konsep diri
§ Bagaimana klien menilai dirinya sebagai manusia?
§ Bagaimana orang lain menilai diri klien
§ Apakah klien suka akan dirinya?
c.
Cara berkomunikasi
§ Apakah klien mudah merespon?
§ Apakah spontanitas atau hanya jika ditanya?
§ Bagaimana perilaku nonverbal klien dalam berkomunikasi?
§ Apakah klien menolak untuk memberi respon?
d.
Pola interaksi
§ Kepada siapa klien mau berinterkasi?
§ Siapa yang penting atau berpengaruh bagi klien?
§ Bagaimana sifat asli klien : mendominasi atau positif
- Pengkajian Sosial
a.
Pendidikan dan pekerjaan
§ Pendidikan terakhir
§ Keterampilan yang mampu dilakukan
§ Pekerjaan klien
§ Status keuangan
b.
Hubungan sosial
§ Teman dekat klien
§ Bagaimana klien menggunakan waktu luang?
§ Apakah klien berkecimpung dalam kelompok masyarakat?
c.
Faktor kultur sosial
§ Apakah agama dan kebudayaan klien?
§ Bagaimana tingkat pemahaman klien klien tentang agama?
§ Apakah bahasa klien memadai untuk berkomunikasi dengan orang lain?
d.
Pola hidup
§ Dimana tempat klien?
§ Bagaimana tempat tinggal klien?
§ Dengan siapa klien tinggal?
§ Apa yang klienlakukan untuk menyenangkan diri?
e.
Keluarga
§ Apakah klien sudah menikah?
§ Apakah klien sudah mempunyai anak?
§ Bagaimana status kesehatan
klien dan keluarga?
§ Masalah apa yang terutama dalam keluarga?
§ Bagaimana tingkat kecemasan klien?
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN, INTERVENSI & EVALUASI
- Gangguan konsep diri: citra tubuh negatif
Defenisi : kondisi dimana seseorang mengalami kerusakan / tidak mau menerima
keadaan tubuhnya.
Kemungkinan berhubungan dengan:
a.
Perubahan menetap pada tubuh
klien
b.
Amputasi
c.
Mastektomi
d.
Kolostomi
e.
Luka bakar
f.
Efek pengobatan
Kemungkinan data yang ditemukan
a.
Secara verbal mengatakan
membenci / tidak menyukai bagian tubuhnya
b.
Menghindari bagian tubuh tertentu
c.
Perubahan struktur / fungsi
tubuh
d.
Tidak mau menyentuh bagian
tertentu
e.
Perasaan negatif terhadap
bagian tubuhnya
Tujuan yang diharapkan:
a.
Pasien dapat menerima keadaan
tubuhnya secara proporsional
b.
Pasien dapat beradaptasi dengan
keadaan tubuhnya.
|
Intervensi
|
Rasional
|
|
1.
Binalah hubungan saling
percaya
2.
Kajilah penyebab gangguan
citra tubuh
3.
Kajilah kemampuan yang
dimiliki klien
4.
Eksplorasi aktivitas baru
yang dapat dilakukan
|
1.
Dasar mengembangkan tindakan
keperawatan
2.
Merencenakan intervensi lebih
lanjut
3.
Alternatif memanfaatkan kemampuan dengan
menutupi kekurangan
4.
memfasilitasi dengan
memanfaatkan kelebihan
|
- Cemas
Defenisi : perasaan tidak menyenangkan disebabkan oleh sumber yang tidak
jelas / tidak spesifik.
Kemungkinan berhubungan dengan:
a.
Ancaman perubahan status
kesehatan dan status ekonomi
b.
Situasi krisis
c.
Ancaman Kematian
d.
Kurang pengetahuan
Kemungkinan data yang ditemukan
a.
Perilaku takut
b.
Meningkatnya TD dan kesulitan
tidur
c.
Wajah tegang
d.
Perasaan kacau
e.
Menangis
f.
Marah
g.
Menarik diri
Kondisi klinis kemungkinan terjadi pada:
a.
Keadaan RS
b.
Penyakit terminal
c.
Pembedahan
d.
psikotik
Tujuan yang diharapkan:
a.
Pasien dapat menurunkan
kecemasan
b.
Pasien dapat mendemonstrasikan
cara penurunan kecemasan
|
Intervensi
|
Rasional
|
|
1.
Kaji riwayat masuk RS
2.
Monitor hubungan perilaku
cemas, aktivitas dan kejadian setiap 2 jam
3.
Yakinkan klien bahwa cemas
adalah reaksi normal, Bantu identifikasi tanda-tanda kecemasan seperti napas
lebih cepat, nadi cepat dan berkeringat dingin
4.
Berikan ketenangan dengan
memberikan lingkungan yang nyaman
5.
Jelaskan semua prosedur dan
tujuan dengan singkat dan jelas
6.
Monitor tanda vital setiap 4
jam
7.
Kolaborasi untuk pemberian
obat anti cemas (penenang) dan monitornya efeknya setiap 30 menit
8.
Kaji kemungkinan adanya
perilaku menyimpang ; perkelahian, merokok dll
9.
Bantu pasien dalam kemampuan
koping
10. Lakukan tehnik relaksasi ; napas dalam dan membaca
11. Kolaborasi dengan psikiater ; hal-hal yang mengganggu seperti
lampu yang silau, suasana yang gaduh, dan cuaca yang panas.
|
1.
Identifikasi factor penyebab
2.
Ketika cemas meningkat pasien
kurang kooperatif dan ada kemungkinan terjadi perubahan rencana keperawatan
3.
Membantu mengidentifikasi
hubungan antara partisipasi dengan kecemasan
4.
Lingkungan yang nyaman membantu memfokuskan
pikiran dan aktivitas
5.
Pasien yang kooperatif
6.
Membantu menentukan efek
cemas
7.
Efek pengobatan membantu
menurunkan cemas
8.
Mencegah terjadi penyimpangan
perilaku
9.
Koping yang positif dapat
menurunkan kecemasan
10. Relaksasi menurunkan kecemasan
11. Mengatasi masalah kecemasan
|
- Takut
Defenisi : perasaan tidak menyenangkan disebabkan oleh sumber yang dapat
diidentifikasi oleh pasien.
Kemungkinan berhubungan dengan:
a.
Hospitalisasi
b.
Ancaman kehilangan bagian tubuh
dan fungsi tubuh
c.
Antisipasi nyeri
Kemungkinan data yang ditemukan
a.
Berkeringat dingin
b.
Ekspresi Wajah cemas
c.
Menangis
d.
Wajah tegang
Kondisi klinis kemungkinan terjadi pada:
a.
Ancaman terhasap penyakit
b.
Kondisi psikiatri
Tujuan yang diharapkan:
a.
Pasien dapat merancang
penurunan rasa takut
b.
Pasien dapat mengidentifikasi
penyebab ketakutan
c.
Secara verbal pasien mengatakan
tidak takut lagi
|
Intervensi
|
Rasional
|
|
1.
Kaji penyebab rasa takut
pasien
2.
Pertahankan keadaan
lingkungan RS dan kenyamanannya
3.
Intervensi bahwa rasa takut
dapat diatasi
4.
Gunakan sentuhan tangan jika
diterima
5.
Monitor tanda vital, tingkat
kesadaran, perubahan perilaku setiap 4 jam
6.
Berikan dukungan positif
7.
Bantu pasien dalam mengambil
keputusan
8.
Beri umpan balik positif dari
keputusan yang diambil
9.
Lakukan tehnik relaksasi
10. Kolaborasi dengan psikiater
|
1.
Mengidentifikasi rasa takut
2.
Menurunkan rasa takut
3.
Pasien merasa termotivasi
4.
Jalan untuk mendekatkan diri
5.
Menentukan perubahan
fisiologi tubuh
6.
Meningkatkan optimisme
7.
Membantu memecahkan masalah
8.
Meningkatkan kekuatan pasien
9.
Menurunkan ketakutan
10. Pelayanan Holistik
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar